Selamat Datang di Blognya Mas Rowin

Sabtu, September 29, 2012

Juma'at Sore

Rutinitas harian berjalan seperti biasa , sore jam 15.30 speaker diatas pintu mushola kantor berdentang, menandakan tuk break sejenak dari pekerjaan. Sedikit merapikan kursi dan alat kerja. Sebagian teman kerja menuju Mushola dan sebagian lagi para pemuja asap juga tak kalah ceria dengan gengnya. Bersapa saling bercerita denganun kepulan asap dari mulutnya. Sekarang, diriku melangkahkan kaki mengikuti segerombolan pasukan biru (seragam kerja warna biru) yang menuju mushola. Belum sampai dipintu mushola, getar dan dering telephon dikantong menghentikan langkah ini, kulihat ada nama "Anis New" dalam layar teleponku. Ternyata cuma miscall. Aku langsung paham dengan panggilan ini, maklum adiku yang satu ini, kalau pingin ngobrol atau sekedar cerita , pasti hanya miscall maksudnya mesti aku yang telepon balik. Ku cari gambar "contac" dihape, kupanggil "Anis New". "Assalamu'alaiku warohmatullohiwabarokatu .." (salamku kubuat seperti seorang yang akan memberikan ceramah) Keniasaanku ketika menghubungi keluarga menggunakan salam yang khas. " Wa'alaikum salam warohmatullohi Wabarokatuh" terdengar suara lembut kecil dengan nada agak tergesa- gesa. Adiku mulai cerita tentang kuliahnya, aku mulai paham intinya ia minta Pulsa,... he he. Sebelum menutup telepon sekilas terdengar pesen dari adiku, " Mas, tetangga depan Abis pengajian haji, Kapan yah Bapak Klih Si Mbok bisa nyusul ke Baitulloh." Langkahku Kulanjutkan menuju Mushola, namun dihati masih ada beban berat, ketika mendengar kata dari Adiku, mungkinkah harapan Kedua Orang tuaku tuk Bisa bersegera ke ziarah ke Tanah Suci bisa terpenuhi, "Ya Robb Yang Maha Pengasih dan Penyayanh Ampuni Dosaku dan dosa kedua Orang tuaku,dan sayangilah Mereka sebagaimana Mereka Merawatku Ketika Aku Masih Kecil. Ya Roob Karuniakanlah rejeki yang berkah kepada keluargaku, Engkau Yang Maha Kaya. " Amin....

Sabtu, Mei 16, 2009

Sepenggal Kisah dari Novel "Ketika Cinta Bertasbih"


Siang itu sebelum jam dua belas, semua orang dalam rombongan "Pekan Promosi Wisata dan Budaya Indonesia di Alexandria" sudah keluar dari hotel. Tepat jam setengah satu mereka sudah bergerak meninggalkan Alexandria menuju Cairo. Rombongan yang terdiri atas empat puluh lima orang itu meluncur ke Cairo dengan dua mobil mewah KBRI, satu bus dan satu mobil barang.


Azzam duduk di samping Romi. Pak Ali mengendarai BMW bersama Pak Dubes dan teman Pak Dubes. Mobil mewah satunya dikendarai oleh Atase Pendidikan dan Atase Perdagangan. Yang lainnya ikut dalam bus yang tak kalah nyaman. Baru keluar dari Alexandria Romi sudah harus ke toilet. Ia tidak sempat membersihkan perutnya sebelum berangkat sebab tergesa gesa. Ia tadi terlalu asyik berenang di pantai dan nyaris lupa waktu. Kalau saja Pak Atase Perdagangan tidak mengabsen semua orang di lobby, bisa jadi Romi akan ketinggalan.


Saat Romi pergi ke toilet itulah Eliana yang duduk agak di belakang maju dan duduk di tempat duduk Romi yang kosong. Azzam dan Eliana belum sempat berbincang sejak peristiwa pemutusan pembicaraan tadi malam. Eliana mendahului percakapan,

"Eh Mas Khairul, terima kasih atas kiriman habasy

takanat-nya ya? "


"Oh sama-sama. Oh iya, sama minta maaf atas sikap saya yang mungkin tidak berkenan tadi malam. Mungkin itu membuat Mbak Eliana marah. Saya dengat dari Romi tadi pagi Mbak marah."

"Ah tidak. Hanya sedikit emosi saja. Kita lupakansaja itu semua. Ini kalau boleh sayatanya, kenapa kau menjawab mendapat ciuman Prancisitu musibah. Saya yakin Mas Khairul tadi malam mengatakan dengan serius."


Azzam tersenyum. Ia geli sendiri mendengar perkataan Eliana. Katanya lupakan saja semuanya, tapi masih bertanya tentang jawabannya tadi malam. Namun ia tidak mau mengungkit hal itu. Ia ingin langsung menjawab pertanyaan Eliana.


"Setiap orang punya prinsip. Dan prinsip seseoran itu biasanya berdasar pada apa yang diyakininya. Iya kan Mbak?" Kata

Azzam mengawali jawabannya.

"Iya." Kata Eliana sambil mengangukkan kepala. Saat itu ia sama sekali tidak memandang Azzam sebagai tukang masak, tapi memandang Azzam sebagai seorang mahasiswa yang memiliki satu sikap dan pendirian.

"Saya juga memiliki prinsip. Prinsip hidup. Prinsip hidup Saya itu saya dasarkan pada Islam. Sebab saya paling yakin dengan ajaran Islam. Di antara ajaran Islam yang saya yakini adalah ajaran tentang menjaga kesucian. Kesucian lahir dan kesucian batin. Kenapa dalam buku-buku fikih pelajaran pertama pasti tentang thaharah. Tentang bersuci. Adalah agar pemeluk Islam senantiasa menjaga kesuciar lahir dan batin. Di antara kesucian-kesucian yang dijaga oleh Islam adalah kesucian hubungan antara pria dan wanita. Islam sama sekali tidak membolehkan ada persentuhan intim antara pria dan wanita kecuali itu adalah suami isteri yang sah. Dan ciuman gaya Prancis itu bagi saya sudah termasuk kalegori sentuhan sangat intim. Yang dalam Islam tidak boleh dilakukan kecuali oleh pasangan suami isteri. Ini demi menjaga kesucian. Kesucian kaum pria dan kaum wanita.


"Ketika saya mengatakan bahwa jika sampai saya melakukan ciuman itu dengan wanita yang tidak halal bagi saya, maka saya telah menodai kesucian saya sendiri dan menodai kesucian wanita itu. Dan itu bagi saya adalah suatu musibah yang luar biasa besarnya. Saya telah kehilangan kesucian bibir saya.

Tidak hanya itu, saya juga kehilangan kesucian jiwa saya. Jiwa saya telah terkotori oleh dosa yang entah bagaimana cara menghapusnya. Jika bibir ini kotor oleh gincu bias dibersihkan dengar air atau yang lainnya. Tapi jika terkotori oleh bibir yang tidak halal, kotor yang tidak tampak bagaimana cara membersihkannya. Meskipun bisa beristighfar, meminta ampun kepada Allah tetap saja bibir ini pernah kotor, pernah ternoda, pernah melakukan dosa yang menjijikkan. Saya tidak mau melakukan hal itu. Saya ingin menjaga kesucian diri saya seluruhnya. Saya ingin menghadiahkan kesucian ini kepada isteri saya kelak. Biar dialah yang menyentuhnya pertama kali. Biar dialah yang akan mewangikan jiwa dan raga ini denga n sentuhan-sentuhan yang mendatangkan pahala."


"Itulah prinsip yang caya yakini. Mungkin saya akan dikatakan pemuda kolot. Pemuda primitif. Pemuda kampungan. Pemuda tidak tahu perkembangan dan lain sebagainya. Tapi saya tidakpeduli. Saya bahagia dengan apa yang saya yakini kebenarannya. Dan saya yakin Mbak Eliana yang pernah belajar di negeri yang mengagungkan kebebasan berpendapat itu akan bisa menghargai pendapat saya." Azzam menjelaskan panjang lebar.

Eliana mendengarkan dengan seksama. Tak terasa air matanya berkaca -kaca. Ia belum pernah mendengarkan penjelasan tentang kesucian seperti itu sebelumnya.


"Aku mengerti." Lirih Eliana.


"Terima kasih atas penjelasannya. Lanjutnya. Saat itu Romi keluar dari toilet. Eliana lalu kembali ke tempatnya semula. Penjelasan Azzam masih membekas dalam hatinya. Tiba-tiba ia merasa dirinya sangat kotor. Bibirnya entah berapa kali bercium dengan pria yang belum menjadi suaminya. Ia tidak bisa menghitungnya. Untuk pertama kalinya ia merasa menjadi perempuan yang tidak berharga. Ia teringat dengan saudara sepupunya yang tinggal di pelosok Lumajang. Namanya Nurjanah. Sejak kecil selalu memakai jilbab. Saat diajak salaman ayahnya saja tidak mau. Ayahnya sempat tersinggung. Tap sepupunya yang sekarang menjadi pengajar di sebuah Madrasah Ibtidaiyyah itu bersikukuh dengan pendiriannya. Tidak mau bersentuhan kecuali dengan lelaki yang halal baginya. Sekarang baru ia tahu rahasianya. Itu karena ajaran kesucian itu. Nurjanah bersikukuh mempertahankan kesucian dirinya secara utuh. Tiba-tiba ia merasa gadis seperti Nurjanal alangkah lebih muliamya. Ia merasa tidak ada apa apanya dibanding Nurjanah. Ada yang merembes dari ujung kedua matanya.

Bus terus melaju membelah padang sahara yang luas. Sejauh mata memandang yang tampak adalah hamparan padang pasir kecoklatan. Ada yang rata, ada yang bergelombang seperti berbukit-bukit. Eliana memandang ke jendela. Ia melihat debu-debu berhamburan di pinggi jalan. Angin berhembus sangat kencang. Namum bus terus melaju dengan tenang.

Minggu, Maret 29, 2009

Life Is Strungle

  Tiada yang bisa ku ungkakan kecuali rasa syukur yang amat dalam kepada Alloh SWT.
“life is strungle”, ungkapan yang begitu mudah tuk di ucapkan namun acap kali implementasi dalam kehidupan ini tak semudah mengucapkannya. Namun ungkapan yang sederhana ini mampu tuk jadikan penyemangat dan prinsip hidup, meskipun segala sesuatu adalah semua atas kehendakNYA, bukan berarti hanya berpangku tangan menjalani kehidupan di dunia ini. 

Nasib Kita tidak akan berubah tanpa adanya niat yang kuat untuk merubahnya sendiri. perubahan tuk lebih maju,lebih baik, lebih bisa berfikiran positif dan lebih bisa menghargai nikmat yang dititipkan Sang Kholik pada diri tiap Munusia. bagaimana kita memaksimalkan syukur nikmat Nya dalam Mengarungi langKah Hidup ini.

perjuangan yang sesungguhnya adalah perjuangan tuk bisa bertaggung jawab atas diri masing-masing….perjuangan tuk bisa mempertanggungjawabkan tiap perbuatan dan tindakan perjuangan untuk gapai kenikmatan dan kebahagiaan yang sesungguhnya, perjuangan untuk senantiasa menjadikan segala kejadian kedalam memori ilmunya..